cerpen
Sang Malaikat Cinta
Sang Malaikat Cinta
Karya Adika Abdul Aziz
“Bro, ayo kesini, gabung sama kita-kita...” teriak
temanku yang sudah dipengaruhi minuman keras itu. Dia melambaikan tangannya
padaku tanpa dosa. Seolah dunia ini bagaikan surga yang dipenuhi oleh
kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara. Dia mengajakku berpesta ria bersama
wanita-wanita malam.
Aku
hanya tersenyum. Aku masih tetap berpegang teguh dengan imanku. Aku masih ingat
dengan nasihat ibuku. Beliau melarangku untuk tidak bergabung dengan
orang-orang sesat. Beliau tidak ingin anaknya terjerumus dalam hal-hal negatif
seperti itu. Ah, sungguh mulia ibuku ini. Beliau sangat menyayangiku dengan
tulus. Beliau bagaikan sang malaikat cinta.
Malam
itu aku bersyukur tak tergoda oleh temanku yang sesat itu. Hari-hariku diisi
oleh kegiatan positif. Aku termasuk remaja yang aktif dalam kegiatan keagamaan.
Selain itu, aku juga aktif dalam organisasi di sekolah. Itu yang membuatku
menjadi banyak teman.
Malam
itu, adalah malam yang sangat dingin dari malam-malam sebelumnya. Tubuhku
menggigil kedinginan. Seperti biasa, sepulang mengaji aku selalu melewati
warung remang-remang tempat para penikmat duniawi malam beraksi. Tapi kali ini
ada sesuatu yang ganjil. Tahukah teman? Aku dihadang oleh teman-temanku yang
ternyata sudah dipengaruhi. Aku hanya terkejut dan segera mengucap istighfar.
“Eh, lu
kedinginan ya? Nih, minum ini aja. Gue jamin, lu gak bakalan kedinginan..
hahaha... iya gak bro??” kata Sobri, salah satu temanku sambil menawarkanku
minuman kerasnya.
“Yoi
bro, apalagi kalau ditemenin bobo ama neng Citra, haha... ya gak neng?” sahut
yang lain.
“Iya
donk bang, tambah anget bang..” sahut Citra, yang dulu sangat rajin mengaji
itu.
“Eh,
mendingan lu gabung aja ama kami...”
Aku
tersenyum sambil menggelengkan kealaku. Tiba-tiba Citra memegang tanganku
kuat-kuat sehingga Al-Qur’an yang kupegang terjatuh ke tanah. Aku segera
mengucap Istighfar. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan segera kuambil
Al-Qur’anku itu.
“Eh,
kenapa sih say. Jangan marah gitu donk. Aku kan cuma pengin ngajak kamu
hepi-hepi. Apa kamu gak mau hepi-hepi denganku? Dijamin puas deh...”
Aku
kembali tersenyum, lalu berkata “Tidak, terima kasih. Assalamu’alaikum...”
Lalu aku
melangkah dengan pelan. Mereka mulai memanas. Baru lima langkah dari mereka, tiba-tiba
salah seorang dari mereka menarik bajuku dari belakang. Brukk..!! aku terjatuh.
Dan kulihat Al-Qur’anku juga terjatuh. Bahkan beberapa lembaran Al-Qur’anku
tercecer. Tiba-tiba aku dicekoki dengan minuman haram itu. Aku memberontak.
Tapi aku tak berdaya. Mereka memegangiku kuat-kuat.
Tiba-tiba
tubuhku terasa hangat. Pikiranku seolah manjadi terbang. Oh, mungkin ini yang
namanya nikmat duniawi ala mereka. Kini aku merasakannya. Oh, sungguh nikmat
rasanya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihatku mulai mabuk. Lalu aku dibawa
ke suatu tempat. Tapi aku tak dapat melihat jelas tempat itu. Aku terus
mengigau tak karuan. Tiba-tiba aku merasa ada yang melepas bajuku. Aku jadi
berpikir, mungkin inilah awal permainan malamku.
Sejak
kejadian itu, aku suka mencuri waktu untuk pergi ke tempat haram itu. Lama-lama
ibuku menjadi curiga kepadaku. Mungkin yang ada dipikirannya adalah kenapa aku
selalu pulang larut malam setiap habis mengaji. Kelakuanku juga makin tak
karuan. Aku jadi mulai mencuri uang ibu untuk membiayai petualangan malamku
itu. Suatu hari, aku ketahuan mencuri oleh ibuku. Ibuku marah besar padaku.
“Rahmat,
apa yang kamu lakukan? Kamu mau mencuri uang ibu ya? Jadi selama ini kamu yang
mencuri uang ibu? Astaghfirullah nak, kenapa kamu jadi begini??”
“Ehm...
begini bu, biar aku jelasin. Sebenarnya aku mau minta uang sama ibu buat iuran
di sekolah. Tapi saat itu ibu lagi gak ada. Ya jadi kuambil aja dulu bu...”
“Ya,
tapi kan kamu bisa bilang dulu sama ibu. Gak perlu nyuri-nyuri kaya gitu. Ini
kan namanya mencuri nak....”
“Ah...
ibu ini bawel banget. Aku udah jelasin tapi ibu gak percaya. Ah, aku mau pergi
aja...”
Ibuku
terkejut dengan perkataanku. Beliau segera mengucap Istighfar. Beliau seakan
tak percaya aku menjadi sekeras ini. Kini aku jadi semakin tak ramah pada semua
orang. Tak hanya itu, aku juga jadi tak aktif lagi mengaji. Hari demi hari aku
berkubang pada dosa. Tapi aku tak memikirkan itu. Yang penting hepi, hepi, dan
hepi.
Suatu
malam, ibuku mencoba mencari tahu yang sebenarnya. Beliau membuntutiku dari
belakang. Tapi aku tak mengetahuinya. Beliau terus mengawasiku. Namun perlahan
dia mulai meneteskan air matanya ketika melihatku bermain dengan kupu-kupu
malam.
“Astaghfirullah...
kenapa anakku jadi begini...” lirihnya.
Beliau
tak tahan melihatku berkubang pada dosa. Beliau akhirnya memutuskan untuk
pulang ke rumah. Sepulang ke rumah, beliau segera melaksanakan sholat hajat.
Sehabis sholat, beliau segera berdoa pada Alloh SWT, Sang Tuhan Maha Cinta.
“Ya
Alloh tuhanku.. cabutlah nyawaku.. aku telah gagal merawat anakku... semoga
anakku diberi hidayah oleh-Mu Ya Alloh... amin...”
Setelah
itu beliau bersujud. Dan saat itu juga beliau pergi untuk selama-lamanya.
Tiba-tiba botol minuman keras yang kupegang terjatuh dan pecah
berkeping-keping. Aku sangat marah.
“Anjrittt...
botol gue pecah...!!”
“Ya beli
lagi donk bro..” sahut salah satu temanku.
“Gue gak
punya duit lagi bro... gue utang lagi ma elu ya? Boleh kan?”
“Eh, lu
kira-kira donk... lu kan udah utang banyak sama gue...”
“Yah
bro, gue janji akan ngembaliin duit lu besok. Boleh ya?? Pliss...”
“Ya udah
nih, awas kalau besok lu gak ngembaliin duit gue. Gue bunuh lu..”
“Hahaha...
oke-oke bos...”
Esok
paginya aku pulang sambil membawa sebotol minuman keras. Tadi malam aku sudah
meminum lebih dari 8 botol. Sungguh rekor yang hebat. Tiba-tiba aku terhenti.
Aku terkejut melihat orang-orang telah memadati rumahku. Selain itu aku juga
terkejut melihat bendera kuning yang berkibar di depan rumahku. Itu kan bendera
kematian, pikirku. Lantas, siapa yang meninggal?
Aku
segera mencari tahu. Aku melangkah menuju rumahku. Orang-orang memandangiku
dengan tatapan aneh. Tapi aku tak peduli. Lalu ku minum lagi minuman keras itu.
Aku mulai masuk ke dalam rumahku. Aku terpaku pada sesosok mayat yang sedang
terbujur kaku di atas meja. Tiba-tiba aku dihampiri oleh Hanifudin, teman
mengajiku.
“Aku
turut berduka cita atas kematian ibumu...” katanya sambil memegang pundakku.
Aku terkejut setengah mati. Seakan aku tak percaya pada perkataannya. Apakah aku bermimpi? Lalu
aku menuju mayat itu. Kubuka kain penutup itu. Dan aku sangat terkejut ketika
melihat mayat itu yang ternyata adalah ibuku. Botol bir itu terjatuh dan pecah.
Aku menjadi menangis sejadi-jadinya. Aku merasa telah bersalah padanya. Andai
saja aku tak terjerumus pada permainan malam itu. Pasti aku kini takkan jadi
seperti ini. Namun semuanya telah berlalu. Waktu takkan mungkin terulang
kembali.
Sang
malaikat cintaku telah menghadap pada Sang khalik. Mungkin beliaulah Sang
malaikat cintaku selama ini. Seorang yang menyayangi dan mencintaiku sepenuh
hati. Oh ibu, aku akan merindukanmu.
Jum’at
siang udara sedang sangat bersahabat. Meskipun matahari sangat terik, tapi
udara sangatlah sejuk. Mungkin alam sudah sangat menunggu kedatangannya. Ibuku
telah terkubur di dalam tanah. Tapi rasa cintanya masih ada didalam hatiku.
Kini aku benar-benar bertaubat. Aku akan menepati janjiku agar selalu menjaga
imanku hingga mati. Aku juga akan selalu mengingat nasihat beliau.
Aku
pergi meninggalkan pemakaman dengan rasa sedih. Tapi tiba-tiba suasana berubah
menjadi tegang ketika teman-temanku yang masih aktif dalam kegiatan maksiat itu
menghadangku. Aku tahu maksud mereka. Mereka akan membunuhku karena aku tak
menepati janjiku untuk membayar hutang tadi malam. Aku siap untuk dibunuh. Aku
ingin menyusul ibuku.
“Eh,
karena lu gak bayar-bayar utangmu. Jadi terpaksa gue akan bunuh lu..”
“Silakan...
gue siap...”
Mereka
menyerangku dengan beringas. Kurasakan sebilah pisau telah menusuk perutku.
Rasanya sangatlah sakit. Tiba-tiba percobaan pembunuhan ini diketahui oleh
warga sekitar. Maka warga sekitar pun membantu menyelamatkanku. Dan terjadilah
tawuran sengit antara warga dan para pemuda sesat itu. Aku tak berdaya. Nyawaku
seperti sudah di ujung tanduk. Mungkin inilah saatnya akhir petualanganku.
Mataku
terbuka. Aku terkejut ketika aku menyadari ternyata aku masih hidup. Mungkin
Alloh memberiku kesempatan kedua. Sejak saat itu, aku mulai hari-hariku dengan
hal-hal yang positif. Seperti dulu lagi. Kudengar warung remang-remang itu
telah tutup. Warga telah membakar warung maksiat itu. Semoga tak ada lagi hal
serupa terjadi di negeri ini.
~TAMAT~
Cerpen
Cerpen
Medali Emas Untuk Ibu
Karya
Adika Abdul Aziz
Waktu
sudah menunjukkan pukul dua dinihari dan orang-orang masih tertidur lelap. Tapi
berbeda denganku, aku bangun dari tidurku dan segera mendirikan Shalat Tahajud.
Udara pagi yang sangat dingin tak membuatku untuk mengurungkan niatku beribadah
kedapa Alloh SWT. Selesai sholat, kupandangi ibuku yang masih terbaring sakit
di tempat tidurnya. Aku sempat meneteskan air mata karena tak tega melihat
ibuku yang sudah mengidap penyakit jantung sejak sepuluh tahun lalu.
Penderitaannya tak cukup sampai disini, beliau harus rela ditinggal suaminya
karena suaminya tak rela menahan penderitaan istrinya itu. Ayahku pergi ke luar
kota dan tak
pernah kembali lagi sampai sekarang. Kini, hanya aku seorang yang menjadi
tulang punggung keluarga. Aku terpaksa berhenti sekolah demi menghidupi ibuku
dan dua adikku yang masih kecil.
Hatiku
sedih tak terbendung. Harapan untuk meraih cita-citaku telah sirna. Kini aku
tak seperti anak-anak lain yang setiap pukul tujuh pagi belajar di sekolah. Aku
hanya bisa membayangkan jika aku bisa bersekolah lagi seperti mereka, aku pasti
sangat senang. Kini, setiap pagi kuharus berkeliling ke perumahan-perumahan
elit di Jakarta
untuk mengedarkan Koran. Ah, betapa malangnya nasibku ini.
“Deni…
deni…” kata ibuku dengan lirih.
“Iya
bu. Ada apa?”
sahutku sambil merapikan alat sholatku.
“Tolong
ambilkan obat dan air putih” katanya dengan nafas terengah-engah.
Segera
kuambilkan aira putih dan obat sakit jantungnya. Ternyata obatnya tinggal
sebutir dan mau tidak mau hari ini ibuku harus periksa ke dokter. Aku semakin
cemas karena uangku kini telah habis.
“Bu,
ini obatnya” kataku dengan gugup.
Dengan
cepat, ibuku langsung meminum obat itu. Lalu beliau segera memejamkan matanya
agar obat itu cepat bereaksi.
“Bu,
itu adalah obat yang terakhir. Mau tidak mau, hari ini ibu harus periksa ke
dokter” kataku sambil memegang tangannya.
“Sudah,
gak usah nak. Ibu sudah sehat. Periksanya kapan-kapan aja” sahutnya.
“Tapi
bu, ibu kan
masih sakit. Apalagi akhir-akhir ini penyakit ibu semakin parah” kataku dengan
cemas.
“Sudahlah,
gak apa-apa kok. Ibu akan menahan rasa sakit ini. Ibu sudah sangat bersyukur
jika masih diberi hidup di dunia ini. Sudahalah, kamu jangan terlalu mikirin
ibu. Kerja aja yang bener” katanya sambil tersenyum.
“Baiklah
bu” sahutku lemas.
Sang mentari mulai
muncul di ufuk timur dan kini saatnya aku tuk mencari nafkah. Seperti biasa,
aku harus menuju agen koran untuk mengambil beberapa koran yang akan ku
edarkan. Kukayuh sepedaku yang sudah using itu hingga tempat agen itu.
Setibanya disana, Pak Yusuf, pemilik agen koran itu langsung memberikan
setumpuk koran kepadaku.
“Ini Den, koran-koran
yang harus kau edarkan hari ini” katanya.
“Baik pak” sahutku.
Dan akupun segera
mengedarkan koran-koran itu ke berbagai tempat. Sudah hampir lima tahun aku bekerja sebagai loper koran.
Meskipun bayarannya sangat sedikit, tapi ini cukup untuk menghidupi seluruh
anggota keluargaku. Selain itu, uang hasil kerja kerasku juga kutabung untuk
masa depanku kelak. Aku masih mempunyai mimpi sebagai atlet balap sepeda. Aku
sangat yakin, aku pasti bisa meraih mimpiku itu.
Di hari minggu ini,
jalan-jalan tampak lenagah. Orang-orang Nampak sibuk berolahraga. Banyak dari
memadati jalan-jalan utama di Jakarta .
Seperti biasa, aku melewati Perumahan Pondok Indah yang terkenal karena salah
satu rumahnya yang sangat angker. Tapi itu tak mengurungkan niatku untuk
mengedarkan koran-koran pagi ini. Dan ketika aku melemparkan koran ke salah
satu rumah di perumahan tersebut, tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing
dengan keras. Hal itu tentu saja membuatku takut. Tapi tiba-tiba anjing itu
keluar dan segera mengejarku dengan beringas. Mau tak mau aku harus mempercepat
kayuhanku.
Nafasku semakin
terebgah-engah. Jantungku semakin berdegup dengan cepat. Aku hampir kewalahan
karena hal ini. Anjing itu semakin dekat denganku. Aku semakin mempercepat
kayuhanku. Semua orang tertawa melihatku. Tapi aku tak peduli dengan mereka.
Diantara orang-orang itu, terdapat slah seorang lelaki yang sepertinya sangat
kagum dengan caraku bersepeda. Hanya dia yang bertepuk tangan sambil sesekali
tersenyum.
“Hebat juga cara dia
bersepeda. Dia sangat pantas jadi atlet balap sepeda. Hmmm… sebaiknya aku
bicara padanya. Semoga saja besok aku bisa bertemu lagi dengannya..” gumamnya.
Hampir tiga puluh menit
aku dikejar anjing yang mirip dengan tokoh kartun Scooby Doo itu. Aku sangat
kelelahan, begitu pula pada anjing itu. Kini anjing itu tak lagi mengejarku.
Hari ni nampaknya aku tak bisa mengedarkan seluruh koran ini. Aku sudah tak
berdaya. Maka kuputuskan untuk mengembalikan koran-koran itu ke agen. Untung
saja Pak Yusuf bisa memaklumiku dan dia juga menyuruhku untuk beristirahat di
rumah.
Esoknya, seperti biasa aku berkeliling mengedarkan koran. Danketika aku
melewati rumah pemilik anjing yang mengejarku kemarin, aku sangat ketakutan
jika anjing itu mengejarku lagi. Tapi untungnya, anjing itu tak melihatku. Aku
bernafas lega. Akhirnya aku bisa bersepeda dengan santai. Tiba-tiba ada seorang
yang mengejarku. Kulihat dia. Ternyata orang itu adalah bapak yang kemarin
melihatku saat aku dikear oleh anjing yang beringas itu. Kuhentikan kayuhanku.
Tampaknya dia ingin berbicara denganku.
“Hey tunggu...!!!” teriak bapak itu.
“Kenapa pak?” tanyaku keheranan.
Dia tampak kelelahan. Keringatnya bercucuran. Nafasnya terengah-engah.
“Kamu yang kemarin dikejar anjing kan?” tanya bapak itu.
“Iya pak. kenapa?” tanyaku yang semakin heran dengannya.
“A, aku sangat kagum denganmu kemarin. Kamu sangat hebat dalam bersepeda.
Kamu mau gak kalau ikut lomaba balap sepeda” tanyanya. Aku sangat senang
setelah mendengar perkataannya.
“Wah, mau banget pak ! tapi...” kataku.
“Tapi kenapa?” tanya bapak itu keheranan.
“Tapi aku kan belum pernah ikut lomba balap sepeda. Lagian, aku juga belum
pernah latihan balap sepeda. Terus, aku juga harus bekerja sebagai loper koran
untuk menghidupi keluargaku” jelasku sambil menunduk. Dia tersenyum, lalu dia
memegang bahuku sambil berkata “Tenang saja nak, bapak yang akan melatihmu.
Bapak juga dulu mantan atlet balap sepeda. Jadi bapak tahu persis cara-cara
balap sepeda. Soal pekerjaanmu, bapak punya pekerjaan yang bagus untukmu. Dan
gajinya jauh lebih tinggi dari pekerjaanmu ini”
Aku terkejut mendengar perkataannya. Akupun tersenyum gembira. Akhirnya ada
juga orang yang iba kepadaku.
“Wah, yang bener pak ! Emang aku kerjanya dimana pak? Terus kapan aku mulai
kerjanya?” tanyaku smabil tersenyum.
“Kamu kerja di kantorku. Di kawasan senayan. Terus setiap hari minggu aku
akan ajarkan kamu balap sepeda dengan anak-anak lainnya. Mau kan?” tanya bapak
itu sambil tersenyum.
“Mau banget pak!!” sahutku dengan semangat.
“Baik, mulai besok kamu kerja di kantor bapak ya? Terus mulai hari minggu
besok kita latihan balap sepeda bersama. Ini kartu nama saya” jelasnya sambil
memberikan kartu namanya.
Aku tersenyum gembira. Sebentar lagi cita-citaku akan tercapai. Kulihat
kartu namanya. Ternyata namanya adalah Joko Susilo.
“Oh ya, nama kamu siapa?” tanya Pak Joko.
“Namaku Deni Alfiansyah pak. Panggil saja aku Deni” sahutku sambil tersenyum.
“Wah, nama yang bagus. Ingat ya? Mulai besok kamu kerja di kantor bapak”
katanya lagi.
“Siap pak” sahutku dengan semangat. Pak Joko hanya tersenyum.
Esoknya, aku pergi ke kantornya di kawasan Senayan. Ternyata beliau seorang
Manajer keuangan di sebuah perusahaan asuransi terkemuka di Dunia. Dan aku
bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Suatu pekerjaan yang lebih terhormat
daripada loper koran. Meskipun pekerjaanya lebih melelahkan daripada loper
koran, tapi aku sangat menyukai pekerjaan ini.
Dan seperti yang beliau janjikan, setiap hari minggu kami berlatih balap
sepeda bersama anak-anak lain di arena balap sepeda di kawasan Senayan. Waktu
terus berlalu, aku semakin mahir balap sepeda. Hingga pada suatu hari, turnamen
balap sepeda tingkat Provinsi DKI Jakarta pun dimulai. Aku harus bersaing
melawan lima puluh atlet balap sepeda lainnya. Dan tembakan keras dari wasit
terdengar dengan keras. Para atlet mengerahkan semua kekuatannya untuk menjadi
yang tercepat. Sayangnya, aku tertinggal jauh dari atlet-atlet tersebut.
“Aku harus bisa.. aku harus bisa..” gumamku dalam hati.
Semangatku pun membara. Bagai api yang terkena minyak tanah. Semangatku
terus bergelora. Kukerahkan semua kekuatanku. Sedikit demi sedikit kulewati
atlet-atlet itu. Terus kupacu tenagaku untuk menjadi yang tercepat. Kini ku
berada di posisi kedua. Kulihat Kak Hasan, atlet seniorku tepat berada di
depanku. Sebagai junior, aku tak berani melawannya. Hingga pertandingan usai,
aku bertahan di posisi kedua. Aku hanya bisa menyabet medali perak. Tapi
bagaimanapun juga, aku sangat senang atas prestasiku ini.
Waktu terus berlalu, karirku semakin melesat jauh. Bak roket yang baru
diluncurkan. Berbagai turnamen telah ku ikuti. Namun hasilnya tetap sama. Aku
hanya bisa meraih medali perak. Sementara itu, penyakit yang diderita ibuku
semakin parah. Tentu saja hal itu membuatku cemas. Tiga hari sebelum
keberangkatanku ke Singapura untuk mengikuti ASIAN GAMES, aku sempat mengajak
ibuku ke rumah sakit karena penyakitnya yang semakin parah. Beliau harus
menjalani rawat inap. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan jadwal
turnamenku ini.
Awalnya aku sempat mengurungkan niatku untuk mengikuti ajang olahraga
bergengsi tingkat Asia itu, tapi ibuku tetap bersikeras agar aku harus
bertanding di turnamen itu.
“Tapi bu, penyakit ibu kan semakin parah. Aku harus menjaga ibu. Turnamen
itu tak penting bagiku jika dibandingkan dengan ibu” kataku sambil menangis.
“Tidak apa-apa nak. Ibu akan baik-baik saja. Kamu jangan cemas. Kan masih
ada adik-adikmu dan juga pamanmu yang akan menjaga ibu. Indonesia sangat
membutuhkanmu nak. Kamu harus berjuang untuk Indonesia. Buatlah ibu dan seluruh
rakyat Indonesia bangga terhadapmu nak. Ibu yakin, kamu pasti bisa...!!!” kata
beliau sambil meneteskan air matanya.
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya. Kulihat paman dan adik-adikku
tersenyum kepadaku. Seakan mereka semua mendukungku.
“Pergilah ke Singapura. Buatlah ibumu bangga Den” kata pamanku sambil
tersenyum.
“Iya kak. Kakak pasti bisa ! Kakak jangan khawatir, kan masih ada Isna dan
Adi yang akan menjaga ibu. Berjuang ya kak! Semangat!” sahut Isna sambil
tersenyum.
Aku tersenyum, lalu aku berkata pada ibuku “Baik, Deni akan bertanding di
Singapura. Dan Deni janji, Deni akan pulang membawa medali emas untuk ibu”
Ibu terharu, lalu beliau berkata lirih “Terima kasih nak”
“Sama-sama bu” sahutku sambil tersenyum.
Hari ini adalah hari pertamaku bertanding di negara yang terkenal dengan
patung singanya ini. Tapi hatiku masih cemas akan keadaan ibuku. Perasaanku
semakin tak karuan. Aku berusaha menghilangkan rasa cemas itu. Tapi anehnya
perasaan cemas itu selalu muncul di hatiku. Maka kuputuskan untuk memendam
perasaan itu dalam-dalam.
Semua peserta telah berkumpul di garis Start. Hari ini adalah turnamen
nomor jarak 20 km. Dengan rute sepanjang itu, aku harus bisa bersaing melawan
atlet-altet tangguh dari berbagai negara di Asia ini. Suara temabaka keras
mengawali jalannya turnamen. Aku mengayuh sepedaku dengan cepat dan berhasil
melewati atlet-atlet lain. Waktu terus berlalu. Nafasku semakin terengah-engah.
Aku sudah sangat kelelahan. Tapi aku harus berjuang agar bisa meraih medali
emas. Kini aku berada di posisi kedua. Kulihat seorang atlet dari Malaysia
tepat berada didepanku. Kulihat dia mulai kewalahan dan ini adalah kesempatan
emas bagiku. Segera kulewati dia tapi tiba-tiba dia mendorong sepedaku dengan
sengaja.
Aku meras kesal terhadap perlakuannya. Tapi aku berusaha memendam kekesalan
itu. Aku terus mengayuh dan berusaha melewatiya lagi. Tapi lagi-lagi dia
mendorongku ke tepian. Kini amarahku semakin tak terbendung. Kulewati dia dan
kudorong sepedanya ke tepian. Dan usahaku pun berhasil. Sekarang dia berada di
posisi ketiga. Aku semakin menambah kecepatanku dan berusaha mempertahankan
posisiku ini hingga garis Finish. Dan garis Finish pun berhasil kulewati.
Aku sangat senang karena bisa menjadi juara pertama pada turnamen ini.
Sementar itu, atlet Malaysia itu hanya bisa menjadi juara ketiga. Kini aku
berhasil menyabet medali emas. Sesuai janjiku pada ibuku, aku akan memberikan
medali emas ini kepada beliau. Tiba-tiba ada telpon dari pamanku. Aku sangat
terkejut, karena tak biasanya pamanku menelponku. Tanpa pikir panjang, kuangkat
saja telponnya itu.
“Hallo paman? Kok tumben paman yang nelpon? Oh ya, aku berhasil mendapat medali
emas loh.. haaha..” kataku sambil tertawa.
“Ah, hmm, baguslah, ta, tapi..” kata pamanku terpatah-patah.
“Tapi kenapa paman?” tanyaku cemas.
“I,ibumu meninggal Den. Beliau baru saja meninggal..” kata pamanku.
“Apa!!” kataku terkejut. Aku sangat shock setelah mendengar perkataan
pamanku itu. Kujatuhkan ponselku. Aku lemas tak berdaya. Hatiku pun pecah
berkeping-keping. Aku menangis sejadi-jadinya. Lalu aku segera meminta izin
kepada Pak Joko agar aku diizinkan untuk pulang. Awalnya beliau tak mengizinkan.
Tapi aku terus berusaha merayunya. Akhirnya beliau pun mengizinkanku untuk
pulang ke tanah air. Sesampainya di Indonesia, ternyata ibuku sudah dimakamkan.
Segera ku pergi ke makamnya.
“Ibu, kenapa ibu pergi meninggalkan Deni! Deni masih ingin bersama ibu!
Deni sangat sayang ibu!” kataku sambil menangis di depan makamnya. Tiba-tiba
aku teringat pada medali emas itu. Segera kuambil medali emas itu dan
kuletakkan diatas makamnya.
“Bu, Deni berhasil mendapatkan medali emas. Sesuai janji Deni, medali emas
ini untuk ibu saja. Deni ikhlas bu...” kataku.
“Terimakasih bu atas cinta kasihmu selama ini. Aku cinta ibu” lanjutku
sambil terus menagis.
“Den, kita pulang yuk. Udah sore nih” kata pamanku.
“Baik paman. Selamat tinggal ibu, semoga ibu tenang disana. Aku akan selalu
mencintaimu bu..” kataku.
Lalu akupun pulang ke rumah karena hari yang semakin sore. Esoknya, aku
kembali ke Singapura untuk melanjutkan turnamen itu. Dan kni aku telah menjadi
atlet balap sepeda professional. Aku sangat bangga dengan prestasiku ini. Dan
semua itu karena dukungan dari ibuku tercinta. Terima kasih ibu. Aku kan selalu
mencintaimu.
~TAMAT~
Cerpen
Ketombe cinta
Oleh Adika Abdul Aziz
“Jalur 7, jalur 7, jalur 7..
ayo jalur 7” suara kenek metromini itu mulai membuatku jenuh. Bagaimana tidak,
metromini yang sumpek, brisik, dan asap rokok yang mengudara di ruangan
metromini ini. Tapi inilah kenyataan. Setiap hari gue terpaksa naik metromini
seperti ini karena bus Transjogja tidak melewati daerah kostku. Yah, memang
nasibku apes. Pengennya gue sih bisa kost di deket kampusku. Tapi rata-rata
kost di daerah kampusku malah khusus buat cowok. Ah, bete deh. Untung aja gue
punya temen yang mengerti perasaanku. Mereka adalah Jessie dan Putri. Ya
meskipun mereka cerewet banget tapi gue suka sikap mereka yang care sama gue.
Eh, siapa nih. Aduh, orang misterius
mendekatiku. Rambutnya kribo, hidungnya besar dan banyak kotorannya, bajunya
lecek, mukanya juga serem. Waduh, gue jadi salting nih. Aduh tuhan, jauhkanlah
nih orang dariku. Hah? Dia tersenyum padaku. Gue jadi muntah nih. Ah, mendingan
liat kecoa di jendela aja daripada liat dia.
Eh, kaya ada sesuatu jatuh. Wah gile
nih orang. Masa jatuhin ketombenya di bajuku sih. Emang bajuku tempat sampah
apa! Wah, memang kurang ajar nih orang. Perlu diberi pelajaran nih orang. Aha!
Mending kujatuhin aja. Kudorong kuat-kuat. Dia mau melawan tapi tak berhasil.
Dan akhirnya dia terjatuh ke lantai metromini itu. Haha.. Kasian lu!
“Eh, kurang ajar lu. Berani-beraninya
jatuhin gue. Ngajak berantem lu!” bentaknya.
“Hellooo... gue gak salah denger tuh.
Lu kali yang ngajak berantem. Lu kira baju gue tempat sampah apa! Seenaknya aja
buang ketombe di baju gue..” sahutku.
“Hihhh... awas lu!” sahutnya.
“Ayo lawan gue kalo berani! Dasar
cemen, beraninya cuma sama cewek!”
Semua penumpang memandangi kami. Dan
ternyata tebakanku benar, dia sangat cemen. Dia lalu keluar dari metromini.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, gue masih dibayangi olehnya. Rasanya pengin
ku potong abis rambutnya biar gak ada lagi ketombe. Sesampainya di kampus, gue
langsung curhat sama temen-temen gue tentang orang aneh itu.
“What? Dia bagi-bagi salju ma lu? Wah,
gile banget tuh orang..” tanya Jessie yang seperti tak percaya pada ucapanku.
Lalu gue mengiyakan jika ucapanku itu tadi bener.
“Nek kaya kuwi yo kudu balas dendam
Tik, biar dia tau rasa. Enak aja memperlakukan cewek kaya gitu. Rak sopan blas..!”
sahut Putri. Eh, emang orang Jawa, baru aja diomongin langsung nongol. Gue baru
tau kalau dia juga sekampus dengan gue. Gue dan dia saling berpandangan dengan
penuh amarah. Begitu juga Putri dan Jessie yang memandanginya dengan penuh
amarah.
“Seraannnnggg...!!!!” komandoku dengan
tegas.
Layaknya Charlie’s angel, kami
menyerang dia abis-abisan. Dia tampak kewalahan. Lalu kami terlibat
kejar-kejaran dengannya. Semua mahasiswa memandangi tingkah kami yang seperti
kekanak-kanakkan ini. Sial, dia cepet banget larinya. Kamipun malah yang
kewalahan mengejarnya. Anjrit! Tunggu pembalasanku nanti. Dendam Nyi Tika!
Sudah lebih dari 3 bulan gue
membencinya. Tapi sialnya usaha balas dendamku selalu gagal. Hingga akhirnya
gue ingin mengakhiri semua. Gue capek sekali balas dendam terhadapnya.
Sepertinya gue harus mengibarkan bendera putih sebagai tanda perdamaian.
“Gue nyerah lah, gue bosen musuhan
sama lu. Gue serasa kaya orang gila aja. Musuhan sama orang yang gak jelas kaya
lu”
“Gue juga nyerah, maaf atas kejadian
dulu. Ya udah, kita berteman. Oke?” sahutnya sambil mengajakku berjabat tangan.
“Setuju!” sahutku sambil berjabat
tangan dengannya.
Sungguh cerita yang sangat aneh dalam
hidupku. Bagaimana bisa orang yang dulu ku benci sekarang malah jadi temenku. Ahh,
tak apalah. Yang penting dia gak seperti dulu lagi.
Hari itu adalah sebuah awal dari
hari-hari bersejarah dalam hidupku. Yup, sejak hari itu, gue merasa ada
getaran-getaran cinta gitu. Hari itu adalah pertandingan basket antar
Universitas. Nah, saat itu dia ikut main di tim sepak bola kampusku. Suer, dia
tampak beda hari itu, rambut kribonya itu diiket ke belakang. Seketika itu gue
ketawa terbahak-bahak liat penampilannya.
Babak pertama tim kampusku sedikit
tertinggal dari tim lawan. Semua pemain tampak kewalahan menghadapi lawannya.
Tapi sepertinya babak kedua tim kampusku tak mau ketinggalan. Mereka mulai
mengejar poin. Perform dari lelaki misterius yang bernama Dimas itu juga mulai
menarik. Permainannya sungguh cantik. Dan ketika dia merayakan selebrasi usai
memasukkan bola ke gawang lawannya. Dia menabrak salah seorang pemain lawan.
Otomatis pemain lawan itu tersulut emosinya. Lalu pemain itu memukul Dimas.
Perkelahianpun tak terhindarkan. Para wasit dan pelatih serta official mulai
melerainya. Akhirnya wasitpun mengganjar kartu merah pada pemain itu. Akibat
perkelahian itu juga, Dimas harus dibawa ke ruang medis karena mengalami
luka-luka memar.
Sejak itu gue mulai
mengkhawatirkannya. Siang itu gue mencoba menjenguknya. Alhamdulillah dia udah
sembuh. Dia bertanya padaku kenapa gue begitu perhatian padanya. Gue gak
menjawab. Eh, dia malah megang tanganku. Dia menatap mataku.
“Tik, gue suka sama lu. Ehm, lu mau
gak jadi pacar gue?”
Gue terdiam. Jantungku berdetak dengan
kencangnya. Gue gak percaya dia katakan itu padaku. Gue seperti sedang terbang.
Terbang menuju tak terbatas dan melampauinya. Gue seneng banget ditembak sama
dia. Emang itu yang gue harapkan sejak dulu. Gue menganggukkan kepalaku. Dia
tersenyum padaku dan langsung memelukku. Oh, kaya di film-film cinta aja nih.
It’s a beautiful love.
Tok... tok... tok... suara ketukan
pintu mengagetkanku. Gue penasaran siapa yang bertamu malam-malam gini. Eh,
ternyata pacarku tercinta. Wah, dia ganteng banget. Rambutnya itu dipotong
dengan gaya Mohawk! Bajunya tak lagi kusut, bahkan dia juga memakai parfum. Oh
ya, hidungnya juga bersih. Yah, keren lah.
“Mau ikut pesta?” ajaknya sambil
tersenyum.
“Of course..” sahutku sambil
tersenyum.
Lalu gue diajak ke pesta ulang tahun
temennya. Eh, ternyata disitu juga ada Putri dan Jessie. Mereka tampak kaget
ketika melihatku bersama Dimas yang dulu merupakan musuh bebuyutanku. Yah,
namanya juga cinta. Emang sih ada pepatah yang bilang, benci bisa jadi cinta.
Ya memang pepatah itu benar adanya.
“Wah, Tik, kowe ra salah milih kan?
Aduh deneng sama kiye..” tanya Putri keheranan.
Gue tersenyum sambil menggelengkan
kepalaku.
“Lah wong iki jodohku Put... ya moga
wae dadi jodoh sak lawase..” sahut Dimas.
“Iya, amin, ya ini gara-gara
ketombemu. Mungkin kalau gak ada ketombemu. Kita gak akan kaya gini...”
sahutku.
“Ya jelas... ketombe cinta gitu loh...
hehehe...” sahut Dimas.
Lalu kami pun tertawa tebahak-bahak.
Gue berharap dia jadi cinta terakhirku.
Cerpen
TheTrio Ngimpi !!
Karya
Adika Abdul Aziz
“Kring…!!
Kring…!! Kring…!!” dering jam wecker yang snagat keras sontak membangunkan kami
semua.
“Huahhh!!
Kita kesiangan…!!” teriak kami bertiga. Tanpa basa-basi kami langnung berebut
masuk ke kamar mandi yang hanya satu-satunya di rumah kontrakan kami. Tapi
sialnya, Dodi malah yang berhasil masuk lebih dulu ke kamar mandi. Aku dan Doni
sangat kesal padanya. Terpaksa kami berdua harus menunggunya sampai selesai.
“Dodi…!!
Cepet woy…!! Udah siang tau…!!” teriakku sambil menggedor pintu kamar mandi
dengan keras.
“Sabar
donk Dim..!! Nanggung nih…!!” sahutnya dengan santai.
“Huh
dasar!! Eh, lu kok malah nyantai-nyantai aja sih!!” tanyaku pada Doni.
“Santai
aja lagi Dim, lagian Si Dodi juga belum
kelar. Beritanya lagi seru nih. Liverpool ngalahin Chelsea 3-1. Huff… seru banget!! Sayangnya
tadi malem aku gak nonton..!!” sahut Doni sambil terus menonton acara Tv
kesayangannya itu.
Aku
hanya bias menggeleng-menggelengkan kepala saja. Teman-temanku memang aneh. Si
Doni orangya lumyan playboy, sok ganteng, pelit, tapi juga baik, dan juga
sangat setia kawan. Berbeda jauh dengan Si Dodi yang agak banci walaupun
terkadang menjadi Gentle. Meskipun begitu, dia orang yang paling pintar
diantara kami. Kalau aku? Ah gak usah dibahas. Aku ini orangnya pemalu, tapi
juga paling senang jika diajak berkelahi. Maka tak heran jika di dinding rumah
kontrakanku dipenuhi poster-poster foto actor laga idolaku seperti Jackie Chan,
Bruce Lee, Andy Lau, dll.
Tak
terasa waktu terus berjalan, kami pun telah selesai mandi. Setelah berdandan
yang cukup cool untuk memikat cewek, kami bergegas pergi ke tempat kami bekerja
di sebuah perusahaan pajak. Sayangnya, bensin di motorku malah habis. Tiba-tiba
aku mendapat ide untuk menaiki motor bertiga dengan temanku.
“Bro,
gue ikut lu ya? Bensin gue abis nih…” kataku.
“Alah,
ada ada aja lu, nanti kalau ketilang gimana? Siapa yang mau tanggung jawab..”
sahut Doni dengan kesal.
“Ya
lu lah, lu kan
yang punya motor. Lagian gue juga gak punya duit..” sahutku sambil
cengar-cengir.
“Huh
dasar!! Ya udah cepet naik..” sahutnya lagi.
Akhirnya
kami bertiga naik dalam motor bututnya itu. Ditengah perjalanan, tiba-tiba ada
seorang polisi menghadang kami.
“Tuh
kan !! Apa gue
bilang!” kesal Doni.
“Hehehe…
ya maaf lah… kapan-kapan gue ganti deh..” sahutku.
“Selamat
siang pak, anda tahu kesalahan anda bertiga?” tanya polisi itu.
“Iya
pak, kami tau, tapi kami terpaksa melakukannya pak. Soalnya bensin motorku abis
pak.. hehehe…” sahutku.
“Lantas,
kenapa anda tidak membeli bensin untuk motor anda??” tanya polisi itu lagi.
“Aku
gak punya duit… hehehe…” sahutku lagi.
“Baik,
kalau begitu kalian bertiga harus menjalani siding besok siang” kata polisi
itu.
“Eh
jangan pak. Mending kita selesaiin disini aja ya?? Ya biasalah, kita kan orang sibuk.. jadi ya kalau acara
begituan kami tak bisa ikut.. jadi, kita selesaiin disini aja ya pak..”
sahut Doni yang mencoba
merayu polisi itu.
Akhirnya polisi yang mukanya agak tua
itu terbujuk oleh rayuan Si Doni. Hah, dasar polisi gendut, kalau kaya gini
juga termasuk korupsi. Tapi KPK gak liat. Eh, lu semua jangan tiru adegan kami
ya. Bahaya ! Ntar dilaporin ke KPK loh.
Hari semakin siang, dan motor GL pro
kami semakin ngebut kaya cheetah. Hahaha.. tapi kayanya gak mungkin kalau disamain
kaya gitu. Tepat pukul 10 pagi kami sampai di kantor tempat kami bekerja. Eh,
ternyata kedatangan kami disambut oleh The Office Monster. Tau gak siapa dia?
Dia itu Managerku. Nama aslinya sih Pak Sobri, tapi orangnya malah serem
banget. Dari mukanya aja serem. Kaya Narapidana kelas kakap lah. Hih, Atut...
Oh ya, kira-kira tau kan sambutannya kepada kami? Yup, betul sekali. Dia
memarahi kami abis-abisan. Uhh, baru semenit dimarahin, kami langsung seperti
mandi keringat.
“Aku gak mau liat muka kalian lagi. Go
out from here ! Now !” bentaknya sampai ludahnya membasahi mukanya. Hueek.. aku
jadi pengin muntah.
“Pak, tolong pak. Jangan usir kami,
kami masih ingin bekerja, kami janji akan berubah seribu persen pak.. tolong
jangan usir kami lah pak..” Rayu Si Doni.
“Iya pak lah, kalau kami tidak bekerja
disini, kami harus bekerja dimana lagi?” sahutku.
“Oh ya itu derita lu, salah siapa
telat kerja berkali-kali. Udah, cepat pergi dari sini !” sahut Sang The Office
Monster itu.
Lalu kami pun pergi dari ruangan
bergaya zaman Romawi itu. Rasanya hati kami sangat sedih dan menyesal. Lalu
kami putuskan untuk pergi ke taman kota untuk menghilangkan kepenatan kami.
Semua terdiam. Dan Cling..!! aku mendapat ide cemerlang!
“Bro, aku punya ide, bagaimana kalau
kita buat boyband aja? Gimana? Setuju gak?” tanyaku.
Mereka saling berpandangan. Lalu
mereka malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja itu membuatku bingung.
“Eh, lu semua napa sih? Kok malah pada
ketawa?”
“Haha, abis idemu aneh sih?” sahut si
Doni.
“Aneh napa? Ya gak lah..”
“Eh, liat dulu muka lu. Apa lu itu
ganteng? GAKK!! Mikir donk, Boyband itu kan orangnya ganteng-ganteng, lah kita
mukanya aja pas-pasan” sahut Dodi.
“Eh bro, gue pengin kita gak ngandelin
muka kita. Biar muka kita pas-pasan. Tapi kualitas kita Internasional..”
sahutku dengan mantap.
Tiba-tiba mereka berhenti tertawa.
Mereka memandangku.
“Oh ya, lu bener juga ya? Quality is
number one..” sahut Dodi.
“Oke, aku setuju. Tapi namanya juga
yang unik. Biar semua orang tertarik pada kita..” sahut Si Doni.
Kami semua berpikir mencari nama yang
cocok untuk boyband yang kami bentuk.
Kami saling
berpandangan dan tersenyum.
“The Trio Ngimpi !” teriak kami
bertiga.
Sejak saat itu kami menjadi sibuk. Ya
maklum lah, calon artis. Hehehe.. Aku sibuk mengarang lagu-lagu yang akan
dibawakan oleh boyband kami nanti. Sedangkan Si Dodi sibuk membuat
koreografinya. Nah, kalau Si Doni nih yang nyebelin. Tau gak, kerjaannya dia
cuma liatin poster artis Cut Meyriska terus. Aduh, kayanya dia udah gila banget
ngefans sama cewek yang lumayan seksi itu.
Lagu udah jadi, koreografi juga udah
matang, kini saat rekaman. Sebagai orang yang baru saja menginjakkan kaki di
dunia musik, kami masih sedikit canggung. Tapi kami berusaha menjadi
professional. Setelah hasil rekaman selesai, kini saatnya menwarkan CD Demo
kami ke label-label musik. Tapi entah kenapa para lebel musik itu menolak kami.
Tapi, semangat kami takkan pudar. Kami pun mendatangi label musik terakhir di
Jakarta ini.
“Jadi, kalian ingin buat boyband?” tanya
sang produser.
“Iya..” sahut kami bertiga.
“Aduh, kayanya gak mungkin deh. Muka
kalian itu pas-pasan. Jadi, saya minta maaf. Gak bisa nerima kalian..”
sahutnya.
“Tapi pak, biarpun muka kami
berantakan. Tapi kami jamin, kualitas kami nomor satu pak” sahutku.
“Oh ya, kalau begitu. Saya pengin liat
dulu skill kalian. Jika skill kalian bagus. Saya akan kontrak kalian.
Silakan..” suruhnya.
Tanpa pikir panjang, kami pun langsung
melakukan first show kami. Kami berusaha tampil semaksimal mungkin. Dan apa
yang terjadi? Semua orang terpukau melihat penampilan kami. Amazing! Aku berasa
seperti sudah menjadi artis terkenal. Dan pak produser itu merasa puas atas
penampilan kami. Dia menghampiri kami dan berkata “Kalian diterima..”
Dalam waktu sekejap, musik kami
menguasai tangga lagu negeri. Sungguh prestasi yang tak kubayangkan sebelumnya.
Kami mulai di tawari untuk manggung di berbagai acara musik di televisi.
Bahkan, lagu utama kami menjadi RBT terlaris dan berhasil mendapat rekor MURI.
Waw! Fantastis. Rupiah mulai mengalir ke kantong-kantong kami. Kami dikenal di
seluruh Indonesia. Usaha kami selama ini ternyata tidaklah sia-sia.
Hingga akhirnya kami diundang ke acara
penghargaan musik tanah air. Tak tanggung-tanggung, kami menyabet dua trophy
sekaligus. Pendatang baru terfavorit dan Lagu terfavorit.
“Kalian sekarang sudah terkenal, dan
berhasil meraih prestasi yang sangat membanggakan. Jadi bagaimana perasaan
kalian sekarang” tanya seorang presenter di acara talk show di televisi.
“Ya, pastinya kami sangat senang. Kami
sangat bersyukur atas nikmat yang Alloh berikan kepada kami. Ah, intinya jangan
pernah menyerah dalam berusaha..” sahutku
“Iya, aku juga jadi inget kata-kata
pak Ustad di desaku selagi aku masih di desa dulu, kata beliau, Rasulullah pernah
bersabda: Alloh takkan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tak mau
merubahnya sendiri.. wah, jadi kangen desa nih..” sahut Si Doni.
“Hahahaha... kenapa kalian gak balik
ke desa aja? Katanya kalian setelah sukses kaya gini belum pernah balik ke desa?”
tanya Sang presenter lagi.
“Iya, pengennya gitu. Tapi akhir-akhir
ini lagi banyak job, ya Insya Alloh kami usahakan akan balik ke desa dalam
waktu dekat ini...” sahut Dodi.
Dan kata-kata Dodi memang benar kami
lakukan. Seminggu kemudian kami pulang kampung. Semua warga desa menyambut kami
dengan bahagia. Termasuk orang tua kami masing-masing. Selang beberapa bulan,
Doni menemukan cinta sejatinya. Mau tau siapa dia? Yup, dia adalah artis Cut
Meyriska. Artis yang diidolakannya selama ini.
Sementara itu, Si Dodi masih “hunting”
jodohnya. Ya gak apa-apalah. Tetap semangat ya sob. Aku sendiri juga udah punya
pacar. Malahan sejak SMP. Hehehe... maaf gak kuceritain sebelumnya. Tapi dia
sekarang lagi mendalami ilmu islam di Pondok Pesantren di daerah Jombang. Mau
tau namanya? Serius nih mau tau? Ya udah ku kasih tau, namanya itu cantiiiiik
banget. Secantik orangnya dan juga imannya donk. Namanya dia... Cahya febby
al-muslimah. Hahaha... cantik kan. Jelas, pacarnya siapa dulu. Hehehe...
Ya itulah sedikit kisahku. Semoga aja
bisa menjadi motivasi bagi semua. Intinya, jika ingin sukses, kita harus berani
berubah menjadi yang lebih baik. Terus, kita juga harus berani mencoba, berani
gagal, dan berani bangkit dari kegagalan itu. So, keep spirit friends!
~
TAMAT ~



0 komentar:
Posting Komentar